Pentingnya Sejarah Matematika Dan Implementasinya Dalam Pembelajaran Dan Masyarakat Pada Umumnya

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on twitter
Twitter
Share on telegram
Telegram
Share on print
Print
KAMAL BOLOTA, S.Pd
Sebuah cerita klasik mengilustrasikan bahwa pelajaran Matematika seringkali menjadi momok tersendiri bagi sebagian anak.

Ini adalah semacam potret, baik itu muncul dibalik cerita maupun fakta yang berhasil dieksplorasi melalui riset. Tak heran jika keadaan ini senantiasa ditemui hampir di setiap pengantar sebuah proposal penelitian yang diajukan oleh seorang mahasiswa pendidikan Matematika ketika hendak meneliti dan ini berlangsung dari masa ke masa.

Jika ditelusuri lebih jauh, di sini ada pemahaman yang putus terhadap Matematika itu sendiri, dan ini ada yang ditemui pada anak dan ada juga yang ditemui di kalangan Masyarakat. Bayangkan saja!!, yang terpatri di benak anak ketika disebutkan nama Matematika, adalah RUMUS atau istilah lainnya FORMULA.

Seorang anak atau peserta didik terkadang lebih memilih duduk di pojok belakang ruangan kelasnya ketika sedang berlangsung pembelajaran Matematika, justru karena “FOBIA RUMUS”. Bahkan ada yang mengambil posisi menyelinap di antara teman-temannya, guna menghindar dari perhatian guru Matematika, ini juga lantaran “TAKUT RUMUS”.

Terlalu sulit bagi mereka ketika mendengar rumus Matematika, karena biasanya bagi mereka rumus itu pasti semacam hitungan pelik dan kompleks yang sarat dengan hafalan-hafalan. Ini tentunya merupakan pemahaman yang keliru terhadap Matematika, lebih parah lagi jika ini sudah membingkai dan terpola hampir di setiap benak anak didik.

Jangankan anak setingkat SMA, di SD pun, momok Matematika sudah mewabah, menyebabkan anak-anak yang seharusnya menguasai pola dasar Matematika sejak dini, justru berbalik tidak suka dengan Matematika. Lalu wabah ini perlahan-lahan muncul di tengah-tengah masyarakat.

Para orang tua seringkali menghindarkan anak-anaknya memilih jurusan eksakta atau Matematika saat hendak ke perguruan tinggi. Pilihan ini dianggap terbaik, karena jurusan eksakta terkesan sulit dan bisa-bisa saja menyebabkan anak putus kuliah.

Entah dari mana pemahaman ini berasal sehingga kondisi di berbagai perguruan tinggi pun turut memberikan gambaran di mana jurusan-jurusan non eksakta terlihat lebih ramai diminati mahasiswa, ketimbang jurusan eksakta.

Semua gambaran di atas Tentu harus dicarikan solusinya agar persepsi Matematika bisa kembali ke rel yang sebenarnya. Dalam menyikapi hal ini, maka pelajaran Matematika seharusnya dipandang secara obyektif, agar Matematika tidak kehilangan sifat netralnya.

Belum lagi masalah lain muncul dari oknum guru yang keliru memproyeksikan Matematika di hadapan anak-anaknya, lantaran salah dalam memilih metode pembelajaran, menyebabkan Matematika jadi tak menyenangkan untuk di pelajari. Guru seringkali tampil sebagai sosok yang “killer”, galak, cepat marah, suka menghukum, garang, terlalu cepat menyampaikan pelajaran dan monoton.

Revisi muatan kurikulum yang tak kunjung usai, juga turut andil dalam persoalan ini, padahal urusan kurikulum yang diberlakukan di suatu Negara seperti Indonesia saat ini, tentu saja tidak sembarangan, karena kurikulum faktanya merupakan produk para pakar pendidikan.

Mari kita lihat bagaimana Pentingnya memahami sejarah Matematika bisa merubah keadaan ini!

Radford (1996) menyatakan bahwa konstruksi konsep-konsep Matematika berdasarkan sejarah dapat membantu memberikan pengetahuan tentang bagaimana pemikiran siswa dalam membangun pengetahuan mereka tentang Matematika. Beberepa peneliti juga meyarankan tentang penggunaan sejarah dalam pembelajaran metematika (Fauvel & Van Maanen, 2000; Radford, 2000; Katz, 2000).

IMPLEMENTASI SEJARAH MATEMATIKA DI SEKOLAH

Banyak manfaat yang dapat diambil dari penggunaan sejarah Matematika dalam pembelajaran. Fauvel (dalam Sumardyono, 2012) menyatakan terdapat tiga dimensi besar pengaruh positif sejarah Matematika dalam proses belajar siswa:

# Understanding (pemahaman)

Sebenarnya setiap anak didik memiliki dasar kemampuan untuk memahami Matematika. Hanya saja dalam proses belajar selanjutnya mungkin saja menghadapi hambatan dan keterbatasan sehingga siswa menganggap bahwa pelajaran Matematika itu sulit

Sesuai dengan tujuan diberikannya Matematika di sekolah, kita dapat melihat bahwa Matematika sekolah memegang peranan sangat penting. Anak didik memerlukan Matematika untuk memenuhi kebutuhan praktis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dapat berhitung, dapat menghitung isi dan berat, dapat mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan menafsirkan data, dapat menggunakan kalkulator dan komputer.

Selain itu, agar mampu mengikuti pelajaran Matematika lebih lanjut, membantu memahami bidang studi lain seperti fisika, kimia, arsitektur, farmasi, geografi, ekonomi, dan sebagainya, dan agar para siswa dapat berpikir logis, kritis, dan praktis, beserta bersikap positif dan berjiwa kreatif.

Ini berarti Matematika bukan hanya sekedar tuntutan kurikulum yang gugur sesaat setelah melaksanakan pembelajaran, namun lebih dari itu Matematika sudah merupakan sebuah kebutuhan. Perspektif pemahaman ini yang harus dibangun untuk membangkitkan motivasi anak-anak didik untuk belajar Matematika. Dengan ini Matematika malah jadi menyenangkan bukan sebaliknya jadi momok di mata anak-anak

# Enthusiasm (antusiasme)

Sejarah Matematika memberikan sisi aktivitas manusia dan tradisi/ kebudayaan manusia. Sebuah teorema maupun rumus yang sederhana maupun yang kompleks dalam pembelajaran Matematika bukanlah sesuatu yang kebetulan, namun segalanya lahir di tengah-tengah peradaban tradisi manusia yang secara kolektif dikumpulkan dalam suatu wadah ilmu Matematika.

Sampai dengan hari ini, belum ada satu pun yang mampu membantah keberadaan dan kegunaan torema yang dilahirkan oleh tokoh-tokoh seperti, Thales (624 SM– ), Pythagoras (582 SM– ), Euclides (300 SM– ), Archimedes (287–212 SM), Apollonius (260–190 SM), Diophantus (250 SM– ), Liu Hui (abad ke-3 M), Tsu Chung Cih atau Zu Chong Zhi (480– ), Seki Kowa (abad ke-17), Aryabhata (abad ke-6), Brahmagupta (628 M–), Bhaskara (1114–1185), al-Khowarizmi (825– ), Tsabit ibn Qorra (836–901), al-Karkhi atau al-Karaji (1020– ), Omar Khayyam (1050–1125), al-Kasyi atau al-Kashi (abad ke-15), Fibonacci (1180–1250), Cardano (1501-1576), John Napier (1550-1617), Descartes (1596-1650), Blaise Pascal (1623–1662), Newton (1642–1727), Euler (1707–1783), Gauss (1777–1855).

Lalu, oleh para developer teknologi modern memanfaatkan teorema-teorema ini, sehingga diciptakanlah semacam gadget, ponsel, aplikasi, jaringan internet, satelit yang bisa mengorbit di angkasa, pesawat terbang, kapal laut, yang semuanya itu menggunakan kaidah Matematika.

Yakinlah bahwa pada sisi ini, siswa merasa menjadi bagiannya sehingga menimbulkan antusiasme dan motivasi tersendiri.

# Skills (keterampilan)

Bukankah seorang programmer yang profesional sangat menguasai Matematika? Lalu seorang Pilot pesawat juga harus mahir Matematika karena dituntut kemampuan navigasi dan ketelitian? Bahkan skill matematis mutlak harus dimiliki seseorang dalam hidup dan berinterkasi sosial. Semua itu tentu tak lepas dari sejarah peradaban ilmu Matematika.
Namun Yang dimaksud Fauvel bukan keterampilan matematis semata, tetapi keterampilan dalam hal: keterampilan research dalam menata informasi, keterampilan menafsirkan secara kritis berbagai anggapan dan hipotesis, keterampilan menulis secara koheren, keterampilan mempresentasikan kerja, dan keterampilan menempatkan dan menerima suatu konsep pada level yang berbeda-beda. Keterampilan-keterampilan di atas jarang diantisipasi dalam pembelajaran konvensional/tradisional

Furinghetti (dalam Sumardyono, 2012) menyarankan suatu taksonomi penggunaan sejarah matematika dalam pembelajaran, sbb:
1. Menginformasikan sejarah untuk mengubah image siswa tentang matematika,
2. Menggunakan sejarah matematika sebagai sumber masalah/soal,
3. Menggunakan sejarah matematika sebagai aktivitas tambahan,
4. Menggunakan sejarah matematika sebagai pendekatan alternatif mengenalkan konsep matematika.
Sementara Siu Man-Keung (dalam Sumardyono, 2012) menyatakan terdapat empat level penggunaan contoh ilustrasi dalam sejarah matematika dalam pembelajaran di kelas yaitu:
1. Anecdotes (cerita yang menyenangkan),
2. Broad Outline (garis besar yang penting),
3. Content (materi yang detail), dan
4. Development of mathematical ideas (pengembangan gagasan matematika).

IMPLEMENTASI SEJARAH MATEMATIKA DI MASYARAKAT

Selanjutnya bagaimana Pentingnya Sejarah Matematika bisa membalikkan mitos negatif tentang Matematika yang selama ini berkembang massif di tengah-tengah masyarakat.
Sebagaimana yang dikemukakan Frans Susilo dalam artikelnya di Majalah BASIS yang berjudul Matematika Humanistik, bahwa kebanyakan sikap negatif terhadap Matematika timbul karena kesalahpahaman atau pandangan yang keliru mengenai Matematika. Beberapa mitos negatif masyarakat terhadap Matematika yang perlu diklarifikasi:

1. Anggapan bahwa untuk mempelajari Matematika diperlukan bakat istimewa yang tidak dimiliki setiap orang.

Kebanyakan orang berpandangan bahwa untuk dapat mempelajari Matematika diperlukan memiliki kecerdasan yang tinggi, akibatnya yang merasa kecerdasannya rendah mereka tidak termotivasi untuk belajar Matematika

2. Bahwa Matematika adalah ilmu berhitung.

Hal ini perlu diklarifikasi walaupun Kemampuan berhitung dengan bilangan-bilangan memang tidak dapat dihindari ketika belajar Matematika.

Namun, berhitung hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan isi Matematika. Selain mengerjakan penghitungan-penghitungan, orang juga berusaha memahami mengapa penghitungan itu dikerjakan dengan suatu cara tertentu

3. Bahwa Matematika hanya menggunakan otak.

Hal ini perlu diklarifikasi karena Aktivitas Matematika memang memerlukan logika dan kecerdasan otak.Namun, logika dan kecerdasan saja tidak mencukupi. Untuk dapat berkembang, Matematika sangat membutuhkan kreativitas dan intuisi manusia seperti halnya seni dan sastra.

Kreativitas dalam Matematika menyangkut akal-budi, imajinasi, estetika, dan intuisi mengenai hal-hal yang benar. Para Matematikawan biasanya mulai mengerjakan penelitian dengan menggunakan intuisi, dan kemudian berusaha membuktikan bahwa intuisi itu benar

4. Bahwa yang paling penting dalam Matematika adalah jawaban yang benar.

Jawaban yang benar memang penting dan harus diusahakan.Klarifikasi dari perspektif ini adalah bahwa yang lebih penting sebenarnya bagaimana memperoleh jawaban yang benar.

Dengan kata lain, dalam menyelesaikan persoalan Matematika, yang lebih penting adalah proses, pemahaman, penalaran, dan metode yang digunakan dalam menyelesaikan persoalan tersebut sampai akhirnya menghasilkan jawaban yang benar.

5. Bahwa kebenaran Matematika adalah kebenaran mutlak.

Kebenaran dalam Matematika sebenarnya bersifat nisbi.Kebenaran Matematika tergantung pada kesepakatan awal yang disetujui bersama yang disebut ‘postulat’ atau ‘aksioma’. Bahkan ada anggapan bahwa tidak ada kebenaran (truth) dalam Matematika, yang ada hanyalah keabsahan (validity), yaitu penalaran yang sesuai dengan aturan logika yang digunakan manusia pada umumnya

Dengan melibatkan unsur sejarah diharapkan siswa juga dapat memperluas pengetahuan dalam mencari koneksi apa yang sedang dipelajarinya terhadap lingkungan sekitarnya, meningkatkan keterampilan dan pola pikir terhadap suatu konsep sebelum ditemukannya konsep yang memudahkan.

Selain itu penggunaan sejarah matematika juga diaharapkan dapat memperluas pengetahuan guru yang akan dapat membantu dalam mengembangkan suatu desain pembelajaran yang lebih bermakna, inovatif dan menarik bagi siswa
Tak lupa pula bahwa hanya dengan memahami sejarah Matematika, berarti kita membantah mitos negatif masyarakat terhadap Matematika, sehingga dapat meluruskan pemahaman yang sebenarnya terhadap ilmu Matematika.

I HATE LOVE MATHEMATICS !!

ARTIKEL LAINNYA

Leave a Reply

Close Menu